Ketika Babelan Berlumur Minyak

Daerah miskin dan tak dikenal itu ternyata menyimpan ratusan juta barel minyak. Temuan terbesar dalam sepuluh tahun terakhir.
SUDAH lebih dari dua tahun ini langit malam Babelan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, bersepuh warna merah. Obor-obor raksasa menjulang puluhan meter di atas permukaan tanah, menyemburkan api ke sawang tinggi. Pendar cahayanya menyebar sampai belasan kilometer, menyuluhi sejumlah tempat di kecamatan yang terletak 40 kilometer dari Jakarta ke arah timur laut itu.

Sumber cahaya itu adalah nyala api (flare) yang disemburkan sumur-sumur minyak (rig) milik Pertamina. Sudah 16 sumur pengeboran bekerja di dua struktur minyak di Babelan, yaitu Tambun dan Pondok Tengah. Tahun ini akan bertambah tiga sumur lagi, dan jumlahnya akan makin banyak pada beberapa tahun ke depan. Jangan kaget jika kelak langit Babelan tak lagi mengenal kegelapan malam.

Transportasi Babelan-Bekasi pun ikut terpengaruh. Jalan kecil dengan lebar enam meter sepanjang 15 kilometer, yang menyambung dua wilayah itu, kian lama tak kuat menahan tambahan beban truk-truk pengangkut minyak mentah. Setiap hari hampir 100 trip pengangkutan minyak bergerak dari Babelan ke depo Cilamaya, Subang, sebelum akhirnya dikirim ke kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Rata-rata truk tanki ini melintas setiap 15 menit.

Tak mengherankan jika kemacetan terjadi hampir sepanjang hari. Truk-truk itu mesti bersaing dengan ratusan angkutan kota yang melintasi tiga trayek di Bekasi, dan lebih dari seribu mobil pribadi yang keluar dari tujuh kompleks perumahan dan wilayah lain di Babelan dan sekitarnya. Kondisi jalan Babelan-Bekasi pun kerap rusak karena jalan yang seharusnya cuma menerima beban 4 ton harus ikhlas dilewati kendaraan dengan beban 8-10 ton.

Direktur Hulu Pertamina, Bambang Nugroho, mengakui kondisi ini tak bisa dihindari karena pembangunan pipa Babelan-Cilamaya sepanjang 52 kilometer belum rampung. Menurut rencana, pembangunan pipa baru beres pertengahan tahun ini. “Kita terpaksa memakai truk karena sumur-sumur kita sudah berproduksi, sementara pemasangan pipa belum selesai,” kata Bambang.

Babelan memang sedang menyongsong perubahan besar. Selama ini Babelan dikenal sebagai satu di antara daerah termiskin di Kabupaten Bekasi. Menurut Ketua Tim Peduli Masyarakat Kedungjaya, Bekasi, Ahmad Syahid Qurtubi, rata-rata penghasilan keluarga di Babelan hanya Rp 300 ribu-500 ribu per bulan. Taruhlah setiap keluarga terdiri dari empat orang, tiap anggota keluarga hanya mendapat jatah Rp 2.500-Rp 4.500 per hari.

Beberapa desa di Kecamatan Babelan bahkan setiap tahun menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih. Dengan rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Babelan yang sebatas sekolah lanjutan tingkat pertama, repot sungguh menghalau kemiskinan dari kawasan berpenduduk 115 ribu orang itu. Kini mendadak, wilayah ini diketahui menyimpan kekayaan minyak sangat besar.

Pada pertengahan Januari lalu, Pertamina mengumumkan temuan cadangan minyak mentah di Struktur Pondok Tengah, Babelan, sebesar 233 juta barel. “Ini temuan terbesar dalam sepuluh tahun terakhir,” kata Bambang. Cadangan di Struktur Pondok Tengah itu merupakan seperempat dari total cadangan minyak yang ditemukan di Indonesia sepanjang 2003. Kandungan minyak Babelan setara dengan Banyu Urip, Cepu (ExxonMobil), atau Bukit Tua, Madura (ConocoPhillip). Struktur Pondok Tengah baru menyelesaikan uji coba satu sumur. Setelah dibor dengan kedalaman 2.300 meter, sumur tersebut menghasilkan minyak 2.800 barel per hari.

Berbeda dengan Pondok Tengah, Struktur Tambun, yang terdiri dari lima blok, sudah berproduksi sejak tiga tahun lalu. Struktur Tambun diperkirakan memiliki cadangan sekitar 88 juta barel, dengan jumlah minyak yang bisa dipompa sekitar 21 juta barel. Dari 15 sumur yang sudah dibor, Tambun menghasilkan sekitar 8.000 barel per hari. “Kami membatasi produksi karena kondisi jalan tadi,” kata Bambang. Produksi baru bisa digenjot setelah pipa terpasang. Pertamina menargetkan, pada 2005-2006 produksi Struktur Tambun dan Pondok Tengah akan mencapai 20 ribu barel per hari. “Ini perhitungan sementara,” kata Bambang.

Di tengah penurunan produksi beberapa tahun terakhir, penemuan cadangan minyak di Babelan merupakan limpahan rezeki luar biasa. Bambang menceritakan, sebetulnya wilayah tersebut pernah digarap sebuah perusahaan minyak Jepang, Java Oil Company (Jolco), sejak 1981. Toh, kendati sudah melakukan sejumlah pengeboran, perusahaan itu gagal menemukan cadangan minyak yang besar di Babelan.

Sampai 1996, Jolco hanya menemukan cadangan 300 barel per hari. Karena dianggap terlalu kecil dan tidak memenuhi skala ekonomis, kontrak bagi hasil tersebut dikembalikan ke pemerintah—yang kemudian menyerahkannya ke Pertamina. Perusahaan minyak pelat merah ini pun sebenarnya tak langsung menggarap Babelan karena sedang berkonsentrasi di wilayah lain. Baru pada 2001 Pertamina masuk ke Pondok Tengah.

Setelah melakukan serangkaian pengeboran, Pertamina menemukan cadangan terbukti (proven) dan cadangan mungkin (probable) sebesar 233 juta barel. Untuk bisa menemukan cadangan yang besar itu, Pertamina menggunakan teknologi perekaman seismik tiga dimensi. “Investasinya memang mahal, tapi hasilnya sepadan,” kata Bambang. Dari total biaya eksplorasi sekitar US$ 13 juta (Rp 110 miliar), US$ 8 juta habis untuk perekaman seismik.

Ongkos sebesar itu jelas tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan potensi minyak di kawasan itu, bahkan jika ditambah biaya investasi pengeboran. Kalau harga minyak dunia dianggap sama dengan asumsi APBN 2004, yakni US$ 21 per barel, total cadangan di Struktur Pondok Tengah saja bisa menghasilkan hampir US$ 5 miliar. Jumlah ini pun masih bisa bertambah karena potensi minyak (oil in place) yang ada di Struktur Pondok Tengah diperkirakan masih sekitar 900 juta barel. Sementara itu, Tambun bisa menghasilkan sekitar US$ 450 juta.

Dengan kekayaan melimpah ruah itu, akankah Babelan benar-benar berubah? Bambang menyebutkan, sejauh ini Pertamina sudah mengucurkan bantuan senilai Rp 4,7 miliar, Rp 3,8 miliar di antaranya untuk perbaikan dan pembangunan jalan baru. Pertamina juga sudah memiliki program pembangunan komunitas yang akan dijalankan selama mereka ada di sana. Tapi, katanya, masyarakat setempat seharusnya tak terlalu berharap daerahnya bakal segera berubah setelah ada minyak. Perubahan itu tergantung pada banyak hal, tidak cuma pada Pertamina.

Bambang menceritakan, kontribusi terbesar Pertamina terhadap Bekasi bukan dari sumbangan, melainkan penghasilan riil dari pengeboran itu. Dia menyebut dana bagi hasil dan berbagai pajak yang dipungut untuk kepentingan setempat, yang akan masuk kas Kabupaten Bekasi. Selain itu, anak perusahaan Pertamina, Elnusa, sudah menggandeng perusahaan daerah (BUMD) Bekasi, PT Bina Bangun Wibawa Mukti, membangun pabrik elpiji (LPG, liquefied petroleum gas). Pabrik yang dibangun dengan modal US$ 7 juta ini direncanakan memasarkan produknya ke kawasan industri Cikarang melalui pipa.

Berbagai kontribusi inilah yang bakal menaikkan pendapatan asli daerah, dan pada gilirannya mendongkrak anggaran pembangunan Kabupaten Bekasi. Nah, dari situ sebetulnya pemerintah setempat bisa memperbaiki taraf hidup penduduk Bekasi. Repotnya, Pemerintah Kabupaten Bekasi belum banyak melakukan upaya menjemput bola. Wakil Bupati Bekasi, Solihin Sari, mengakui pemerintah Bekasi belum berkoordinasi dengan Pertamina untuk memberdayakan masyarakat setempat. “Kami masih disibukkan soal anggaran daerah,” katanya kepada Siswanto dari Tempo News Room. Agaknya, masyarakat Babelan memang belum bisa berharap banyak dari temuan minyak ini.

Kondisi itu berkebalikan dengan Pertamina sendiri dan pemerintah Indonesia. Di mata pengamat perminyakan Kurtubi, temuan baru Pertamina ini tergolong luar biasa karena jumlah cadangannya yang lumayan besar, juga karena lokasinya yang sangat dekat. Minyak dari sumur-sumur Babelan akan dengan cepat dan murah memasok bahan baku kilang Balongan. Selain itu, sisa gas dari pengeboran bisa dimanfaatkan untuk produksi elpiji. Gas ini juga sangat dibutuhkan oleh kawasan industri Cikarang, yang letaknya tak jauh dari Babelan. Di masa depan, temuan ini juga akan menjadi sumber pendapatan yang lumayan besar bagi Pertamina, yang kini mesti bersaing dengan raksasa minyak dunia seperti Caltex atau British Petroleum.

Bagi pemerintah Indonesia, di satu sisi cadangan minyak ini akan menambah pendapatan dari pajak minyak. “Ini kabar baik di tengah awan kelabu,” kata Kurtubi. Maklumlah, sejak 1997, produksi minyak Indonesia terus turun dari 1,5 juta barel per hari menjadi di bawah 1 juta barel pada Januari lalu. Sebelum tahun itu, Indonesia selama 20 tahun berhasil mempertahankan produksi pada tingkat 1,5 juta barel. Di sisi lain, Indonesia juga bisa mengulur waktu terjadinya net oil importer (jumlah ekspor lebih kecil dari impor minyak mentah untuk kebutuhan BBM dalam negeri). Sejumlah ahli menyebut Indonesia bakal mencapai posisi itu pada 2020. Dengan temuan ini, efeknya juga akan dirasakan anggaran karena impor masih bisa ditutup dengan ekspor.

Kendati demikian, semuanya masih di atas kertas. Banyak hal masih bergantung pada kemampuan Pertamina dan perusahaan minyak lain menemukan cadangan baru. Jika temuan cadangan baru tak bisa menutup penurunan produksi akibat sejumlah sumur tua berhenti berproduksi, hasilnya akan sama saja. Kalau itu yang terjadi, Babelan sekadar memperpanjang napas Indonesia.

M. Taufiqurohman, Thomas Hadiwinata, Tomi Aryanto

Sumber: Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: