Rakyat Mati di Lumbung Padi

BEKASI – Bosan (62), penjaga makam, adalah satu dari 500.000 lebih warga miskin di Kabupaten Bekasi. Ayah tiga anak ini sehari-hari hanya membersihkan makam di Kampung Tanjung Air, Kramat Pulo Desa Pantai Hurip Kecamatan Babelan. Ia tinggal di gubuk reot di atas tanggul saluran air tanah garapan. Selain membersihkan kuburan, dia juga menjual atap dari alang-alang dan rumbia.
Atap itu dijual satu lembar hanya Rp 2.500. Itu pun kalau ada yang membeli. Namun, tidak setiap hari ada orang yang membeli atap buatannya. Kehidupan Bosan kini semakin sulit. Makan satu hari, hanya dua kali dan sering tak pakai lauk. Sayur kangkung yang merambah di saluran air, termasuk salah satu makanan pokoknya yang hanya direbus pakai garam saja.
Beruntung, Bosan memiliki kartu keluarga miskin (gakin) sehingga tiap bulan ia mendapat jatah beras miskin (raskin). Itu pun dengan susah payah harus ia beli Rp 2.000 per kilogram. Terkadang, ia harus menangkap ikan yang ada di saluran air untuk lauk pauk. Tetapi, tidak setiap saat ada ikan di saluran air itu, dan keluarga ini pun sering makan hanya pakai garam dan kerupuk, lengkap dengan kangkung yang dipetik dari saluran air dekat gubuknya.
Ternyata, tidak hanya Bosan yang hidupnya miskin. Keluarga Supendi, warga Kampung Panombo Desa Pantai Harapan Jaya Kecamatan Muaragembong, termasuk keluarga miskin dari dua juta lebih penduduk daerah ini. Rumahnya hanya terbuat dari gubuk berdinding bambu yang dianyam dan atapnya dari asbes dan genteng bekas. Pekerjaannya pun tidak ada yang menetap. Ia hanya seorang buruh tani dan anggota pertahanan sipil (hansip) yang tidak ada gajinya.
Dalam ekonomi sulit seperti sekarang ini, di Kecamatan Tarumajaya, sempat ada keluarga yang makan genjer dan nasi aking. Nasi aking yang merupakan nasi bekas yang biasanya buat makanan itik peliharaan, terpaksa dimakan warga karena tidak memiliki beras. Bahkan, di Cikarang, sempat tersiar kabar ada warga yang harus makan bekas katering akibat kesulitan hidup.
Inilah gambaran segelintir masyarakat miskin di Kabupaten Bekasi yang jumlahnya tercatat 111.527 keluarga atau 500.000 jiwa lebih. Masih banyak rakyat miskin di wilayah Kabupaten Bekasi yang memiliki lima kawasan industri terbesar se-ASEAN dan dapat menyumbang penghasilan pajak kepada pemerintah pusat Rp 34 triliun ini.
Anehnya, di Kecamatan Babelan kini terdapat beberapa sumur minyak yang dikelola Pertamina. Tetapi, di antara ladang minyak itu, kehidupan warganya sangat memprihatinkan karena miskin. Penduduk miskin juga terdapat di sekitar kawasan industri, Jababeka, Lippo Cikarang, MM 2100, EJIP, Hyundai, Delta Silocon dan sejumlah kawasan industri lainnya.

Penuhi Janji
Namun, di balik kemiskinan yang melanda setengah juta jiwa rakyat Kabupaten Bekasi, kompleks perkantoran Pemkab Bekasi, salah satu perkantoran pemerintah termegah di Indonesia yang dibangun di atas tanah 40 hektare dengan nilai bangunan triliunan rupiah. Tetapi, di tengah kemegahan perkantoran itu pula, terdapat rakyat yang hidupnya sengsara hanya untuk makan sehari-hari saja, sangat sulit.
Wakil Bupati Bekasi Darip Mulyana mengaku prihatin melihat rakyatnya yang miskin setengah juta lebih itu. Ia pun mengakui tidak punya konsep dalam mengentaskan kemiskinan walau berusaha mengalokasikan dana dalam APBD Rp 47 miliar. Kini ia sudah menjabat satu tahun, juga belum tampak perubahan khususnya bagi masyarakat miskin.
Padahal, saat Darip dan Sa’duddin berkampanye menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bekasi setahun lalu, keduanya dalam visinya berjanji mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Nyatanya, sudah satu tahun menjabat, belum ada langkah nyata dalam mengentaskan kemiskinan yang melanda daerah pinggiran Ibu Kota Jakarta ini.
Data yang diperoleh SH, di 23 kecamatan se-Kabupaten Bekasi, pasti ada rakyat yang miskin. Terbanyak rakyat miskinnya, Kecamatan Babelan sejumlah 11.491 keluarga atau 7,81 persen dari jumlah penduduknya 147.139 jiwa. Hal itu dibenarkan Kepala Seksi Ekonomi Masyarakat Kecamatan Babelan, H Djahroni.
Kemudian disusul Kecamatan Pebayuran 9.320 keluarga atau 10,15 persen dari jumlah penduduknya 9.320, Kecamatan Tambun Selatan 8.330 keluarga atau 2,44 persen dari jumlah penduduk 341.175 jiwa.
Kecamatan Tambun Utara memiliki rakyat miskin 6.662 keluarga atau 7,48 persen dari jumlah penduduk 89.017 jiwa, Kecamatan Kedungwaringin rakyat miskinnya 6.638 keluarga atau 12,88 persen dari jumlah penduduk 51.551 jiwa. Termasuk Kecamatan Cabangbungin dari 48.404 jiwa penduduknya yang miskin 4.401 jiwa, Kecamatan Tarumajaya yang miskin 6.030 keluarga dari jumlah penduduk 82.363 jiwa.

Sumber: Sinar Harapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: