Sumur Minyak Babelan Menelan Korban, Amdalnya Baru Dibahas

Pagi itu tak lagi dingin. Mentari sudah beranjak naik, tapi kehangatan sinarnya
tak bisa membangunkan perkampungan yang ditinggalkan penghuninya itu. Kamis dua
pekan lalu, di pekarangan, di sudut-sudut kampung, bangkai ayam dan kambing
masih berserakan. Perkampungan di Desa Buni Bakti, Babelan, pun tersaput senyap
yang mencekam.

Biang semua itu adalah kebocoran satu dari enam belas sumur minyak milik
Pertamina, 20 kilometer dari Bekasi atau 40 kilometer dari jantung Jakarta.
Selasa pagi, 16 Maret lalu, warga yang mengawali kegiatan rutinnya terkejut oleh
ledakan yang terdengar hingga radius seribu meter. Kepanikan makin merebak
ketika bau gas menyebar menusuk hidung. “Dada kami sesak. Mata perih. Kami
berlarian mencari
perlindungan,” kata Yamin, warga yang rumahnya hanya beberapa puluh meter dari
sumber ledakan.

Siang itu pula ribuan warga dari dua desa terdekat, Desa Buni dan Hurip Jaya,
mengungsi. Mereka membanjiri gedung sekolah, kantor desa, dan madrasah di
kampung yang tak terjangkau gas. Menurut data Departemen Kesehatan, 204 warga
dirawat di pusat kesehatan masyarakat terdekat. Mereka mengeluh sulit bernapas
atau merasa lemas. Dua orang di antaranya malah harus dirawat di Rumah Sakit
Umum Daerah Bekasi.

Bambang Busono, Manajer Umum Pertamina Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat,
membenarkan adanya semburan liar (blow-out) gas tanpa api di sumur minyak Pondok
Tengah 01. Kebocoran terjadi pada silang sembur (X-three) di bagian kepala
sumur. Menurut Bambang, pipa kepala sumur tak bisa menahan desakan gas perut
bumi yang jauh melebihi daya tahannya.

Untuk menghentikan kebocoran, tim Keselamatan dan Kesehatan Kerja Wilayah
Cirebon diturunkan. Mereka mencoba memasang tudung penutup (capping) pada kepala
sumur. Mencegah terjadinya kebakaran, petugas pun menyemprot sumur dengan air
dari berbagai arah. Minyak yang telanjur tumpah kemudian dialirkan ke kolam
penampungan. Seminggu kemudian, semburan gas setinggi 20 meter itu baru bisa
jinak. Tapi sempat terjadi kebakaran ketika petugas memasang pipa penutup
semburan (blow-out preventer). Diduga, kebakaran dipicu percikan api akibat
gesekan logam.

Semburan dan kebakaran akhirnya memang teratasi. Tapi masalah tak langsung
pergi. Embun minyak dan gas yang telanjur muncrat ke udara terlalu bebal untuk
bisa dibersihkan begitu saja. Maklum, berat jenis gas dan minyak lebih tinggi
ketimbang udara. Saat udara mendingin, misalnya pagi hari, gas dan embun minyak
turun ke permukaan bumi. Selain menempel di tumbuhan, gas dan minyak itu terisap
hewan
atau manusia.

Empat hari setelah ledakan, ketika gas masih menyembur, pihak Pertamina menjamin
gas dari sumur Pondok Tengah 01 aman bagi lingkungan dan manusia. Mereka merujuk
hasil penelitian tim dari Elnusa yang, menurut juru bicara Pertamina, Sri
Kustini, tak menemukan zat berbahaya. Tapi siapa mau percaya begitu saja?
Banyaknya penderita masalah pernapasan serta matinya ratusan ternak tetap
mencemaskan warga. Lagi pula, sampai saat itu, bau gas masih tercium hingga
radius satu kilometer.

Bahkan jajaran Departemen Kesehatan punya kekhawatiran senada. Departemen ini
kemudian menurunkan tim dari Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Jakarta.
Tujuh anggota tim itu ditugasi meneliti sampel air, tanah, dan udara di sekitar
lokasi kejadian. Target utamanya memastikan ada atau tidaknya zat berbahaya.

Setelah lima hari bekerja, tim Departemen Kesehatan menghasilkan kesimpulan
bernada peringatan.
“Kami tak berani menyatakan udara di sana aman,” kata Maaruf, Kepala BTKL
Jakarta, yang sekaligus memimpin tim Departemen Kesehatan. Pada tahap awal,
menurut Maaruf, pengujian laboratorium memang tak menemukan kandungan zat
pencemar tanah, air, dan udara yang melampaui ambang batas. Kandungan nitrogen
dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), dan amonia pada
udara di permukiman warga, misalnya, masih pada batas aman.

Cuma, kenyataan di lapangan membuat tim peneliti tetap penasaran. “Banyak orang
sakit. Banyak hewan mati. Kami menghadapi pertanyaan besar,” ujar Maaruf.
Penelitian pun dilanjutkan dengan melibatkan parameter yang lebih banyak dan
pengujian laboratorium yang lebih cermat. Hasilnya, di sekitar sumur bocor
ditemukan jenis-jenis gas beracun, antara lain styrene, xylene, toluen, benzene,
dan n-hexane.
“Secara kualitatif kita menemukan gas-gas beracun. Kuantitasnya masih kita
teliti,” kata Maaruf.

Gas beracun ini, menurut Maaruf, bisa menyerang organ tubuh dengan gejala hampir
serupa. Organ paling rentan antara lain mata, kulit, pernapasan, sistem saraf
pusat, hati, ginjal, dan alat reproduksi. Gejalanya bisa iritasi pada mata,
hidung, atau tenggorokan. Gejala lainnya rasa mual, pusing, sakit kepala, sakit
perut, atau kecapekan. Dari temuan inilah, tim Depertemen Kesehatan
merekomendasikan agar lahan di sekeliling sumur minyak dibebaskan dari
permukiman warga. “Paling tidak, untuk radius seribu meter, jangan ada
perumahan,” ujar Maaruf.

Toh, Pertamina tetap yakin kawasan itu aman. Unsur-unsur yang ditemukan tim
Departemen Kesehatan, kata Bambang Busono, sangat rendah kadarnya dan segera
netral saat bercampur dengan udara. “Bahwa warga sekitar sumur pernah
diungsikan, itu bukan karena ada gas beracun. Itu untuk mencegah kebakaran,”
ujarnya.

Benarkah aman? Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta menilai, tanpa
kebocoran pun, sumur-sumur minyak di Babelan tetap sumber pencemaran. Bocornya
sumur minyak Pondok Tengah 01, menurut Walhi, hanya penegasan atas proses
eksploitasi alam yang mengabaikan keselamatan lingkungan.

Direktur Walhi Jakarta, Slamet Daroyni, mengungkapkan sejumlah fakta. Saat
Pertamina melakukan uji seismik untuk memastikan kandungan minyak, lingkungan
dan warga Babelan sudah terganggu. Peledakan dinamit berkekuatan besar,
misalnya, telah membuat rumah warga retak-retak.

Saat sumur bocor, kata Slamet, pencemaran lingkungan bisa dilihat dengan mata
telanjang. Gas bercampur minyak yang turun lagi ke permukaan tanah telah
mencemari lahan pertanian warga.
Akibatnya, belasan hektare padi warga musnah. “Daun dan buah padi yang
terbungkus minyak menguning sebelum waktunya. Apa itu bukan pencemaran?” kata
dia gemas.

Yang makin membuat runyam masalah, menurut Slamet, sumur-sumur minyak Pertamina
dibangun terlalu dekat dengan permukiman. Padahal, untuk kegiatan serupa, jarak
minimal dengan rumah warga tak boleh kurang dari dua kilometer. “Temuan kami di
lapangan, ada rumah warga yang jaraknya hanya 20 meter,” tutur Slamet.

Dari sinilah Walhi Jakarta mencium adanya ketidakberesan dalam proses perizinan.
Mereka mencurigai dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal)
sumur-sumur minyak itu. “Kami curiga tak ada amdalnya.” Kalaupun dokumen
amdalnya ada, menurut Slamet, warga masih berhak mempersoalkan materinya.
Pasalnya, selama ini, warga tak pernah diberi penjelasan lengkap tentang segala
risiko akibat proyek eksplorasi itu.

Kecurigaan Slamet tak berlebihan. Setidaknya untuk sumur minyak yang bocor itu.
Kepala Seksi Teknis Amdal Kabupaten Bekasi, Dian Kusmayadi, mengungkapkan bahwa
proyek Pondok Tengah 01 memang belum memiliki amdal. Pada 2003, Pertamina baru
mengajukan kerangka acuan amdal. Tapi dokumen awal itu baru dibahas Kementerian
Lingkungan Hidup pekan ini. “Harusnya ada amdal dulu, baru ada kegiatan,” ujar
Dian.

Pihak Pertamina sendiri mengakui pembahasan amdal sumur Pondok Tengah 01 baru
dilakukan pekan ini.
Namun Pertamina membantah telah melanggar prosedur. Menurut Bambang, kegiatan
eksplorasi dan pembahasan amdal bisa jalan berbarengan. Alasannya, rencana
penanggulangan lingkungan dalam dokumen amdal harus menyeluruh, dari tahap
perencanaan hingga tahap eksploitasi. “Nah, sumur Pondok Tengah 01 itu masih
tahap eksplorasi, belum tentu berlanjut ke eksploitasi.”

Mestikah amdal menunggu dulu jatuhnya korban?

Jajang Jamaludin, Siswanto, Retno Sulistyowati (TNR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: